Tutorial Menjadi Insan Mulia

waktu baca 5 menit

Beberapa pekan kebelakang, kita kehilangan sosok salah satu pejuang Islam garis terdepan. Syahidnya disaksikan ribuan manusia, kepergiannya diiringi jutaan do’a, dan perjuangannya akan dikenang bertahun-tahun lamanya. Begitulah kisah akhir kekasih Allah yang mendedikasikan hidupnya demi Islam.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa menjadi mulia itu ada harganya. Rasanya, ngga ada kemuliaan yang bisa digapai tanpa perjuangan dan pengorbanan. Semakin mulia seseorang, semakin mahal pengorbanan yang harus dibayar. Bahkan, kemuliaan Rasulullah saja ditandai dengan ujian beliau yang paling berat di antara seluruh manusia.

Beban Rasulullah yang paling berat adalah ketika beliau diberikan Allah tanggung jawab untuk meng-Islamkan satu dunia. Bayangkan, satu dunia! Ketika nabi-nabi lain hanya dibebankan untuk berdakwah pada satu kaum saja, Nabi Muhammad bertanggung jawab untuk menyatukan seluruh umat manusia dari berbagai kaum, dan beliau berhasil. Itulah bayaran atas kemuliaan beliau sebagai manusia paling dicintai Allah di muka bumi.

Begitu juga dengan perjuangan para sahabat. Rasa sakit yang dirasakan Abu Bakar ketika digigit ular di gua Hira langsung Allah ‘bayar’ dengan mencantumkan kisahnya dalam Qur’an dan dikenang oleh miliyaran manusia hingga hari kiamat. Belum lagi bagaimana pengorbanan Siti Khadijah, kesabaran keluarga Yasir, kekuatan hati Mus’ab, keteguhan Umar, dan ratusan sahabat lainnya radiyallahu anhum.

Itulah karakteristik mulia. Ia tidak bisa digapai dengan canda tawa, tapi membutuhkan pengorbanan dan rasa sakit yang sepadan. Makin sakit, makin mulia. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menggapai kemuliaan?

Pernah nonton bola? Iya, cabang olahraga yang disukai hampir semua laki-laki di dunia itu. Kira-kira ketika ada turamen atau pertandingan dalam sebuah stadion besar, siapa yang akan pulang dan membawa piala emas? Apakah salah satu dari ribuan orang yang duduk di kursi? Tentu saja tidak. Yang pulang membawa piala tentu saja salah satu pemain bola, bukan NPC yang hanya datang, menonton, dan pulang.

Atau, pernah nonton film superhero? Kira-kira siapa yang akan diingat oleh penonton? Apakah pemain figuran yang bertugas memenuhi jalan dan hanya berlalu-lalang? Atau, orang-orang yang teriak paling keras ketika diserang oleh pemeran antagonis? Tentu saja bukan keduanya. Yang diingat penonton pasti sosok manusia super. Sosok yang berani menghadapi musuh ketika semua orang takut dan menghindar.

Itulah yang dinamakan peran. Menjadi mulia membutuhkan peran. Apa hal yang membuat orang-orang harus mengenang kita? Jika ada mahasiswa tanpa prestasi, jarang talaqqi/kuliah, sering duduk paling belakang, hobi terlambat, dan jadwal hariannya kosong melompong. Kira-kira bagian mana yang harus diingat oleh orang-orang? Tidak ada hal istimewa, semuanya biasa-biasa saja. Apa bedanya dengan ratusan mahasiswa lain yang punya kebiasaan sama?

Mengambil peran demi meraih kemuliaan

Pada asalnya, kita semua memiliki peran. Entah sebagai anak, kakak, adik, orang tua, teman, murid, guru, dll. Semakin banyak peran yang kita ambil, semakin besar tanggung jawab dan beban kita. Jomblo yang tadinya berperan sebagai anak, murid, dan teman yang baik, ketika menikah akan bertambah perannya menjadi seorang suami/istri dan ketika memiliki anak, bertambah lagi perannya menjadi orang tua. Begitu juga pengangguran yang ketika dapat kerjaan otomatis menambah perannya menjadi buruh/pekerja dan bertambah lagi ketika naik jabatan, begitu seterusnya.

Artinya, kita ngga perlu pusing-pusing bertanya, apa ya peran kita untuk mendapatkan kemuliaan? Kita hanya perlu menjalani peran-peran yang sudah Allah berikan pada kita dengan sebaik-baiknya. Karena, mulia itu ketika kita mampu berperan sesuai tempatnya.

Ketika di kelas, berarti menjadi seorang murid yang baik. Ketika di rumah orang tua, berarti menjadi anak yang berbakti. Ketika di tongkrongan, berarti menjadi teman yang menginspirasi; dan lain-lain. Ketika kita berperan tidak pada tempatnya, kemuliaan itu tidak akan pernah datang menghampiri. Ibarat orang yang makan pakai kaki, padahal tangannya sehat wal afiyat, mulia engga, ngga sopan iya.

Namun dari sekian banyak peran di kehidupan ini, ada satu peran yang tidak boleh dilepaskan sama sekali. Peran yang justru harus menjadi bagian terpenting dari kepribadian dan karakter kita. Peran yang sejatinya akan menjadi identitas kita di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun kondisinya. Ya, peran kita sebagai seorang Muslim.

Mulia dengan syariat Islam

Menjadi ibadurrahman (hamba Allah) adalah sebuah nikmat tersbesar yang Allah limpahkan pada kita. Memang benar, peran kita menjadi ibadurrahman yang taat adalah ketika kita berduaan dan beribadah di hadapan Sang Khaliq. Namun peran sebagai muslim tidak terbatas pada rangkaian ibadah saja. Karena menjadi muslim bukan sekedar peran, tapi juga identitas.

Berperan menjadi seorang muslim bukan hanya ketika berada di masjid-masjid atau di ranah ibadah saja. Peran seorang muslim harus dihadirkan dalam kondisi apapun. Di majelis ilmu, di pasar, di rumah, di sekolah/kampus, di tongkrongan, bahkan ketika kita berada sendirian di tempat yang tidak terlihat oleh manusia.

Menjadi muslim artinya merelakan kehidupan dan matinya semata-mata kepada Allah taala. Sebagaimana do’a yang kita rapalkan tiap solat,

ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Menjadi muslim artinya siap menaati segala perintah dan larangan syara’, siap mengorbankan waktu luangnya untuk membangkitkan umat, siap memperjuangkan hak-hak kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Gaza, siap menerapkan syariat di setiap lini kehidupannya tanpa tapi tanpa nanti.

Tentu menjadi seorang muslim di zaman ini sangat amat sulit. Itulah mengapa hadiah yang Allah siapkan untuk seorang muslim berupa kemuliaan di dunia-akhirat, dan surga yang kekal abadi, bukan sekedar kipas angin atau piring cantik.

Maka, marilah kita berkaca kembali pada diri kita. Siapkah kita mendapatkan konsekuensi-konsekuensi seperti yang dialami para sahabat? Siapkah kita meninggalkan kebiasaan maksiat-maksiat yang sering kita anggap sepele? Siapkah kita membiasakan diri pada ketaatan walaupun lingkungan kita dipenuhi maksiat?

Semoga dengan ketaatan yang begitu berat rasanya Allah mengumpulkan kita pada golongan orang-orang yang mati syahid, dan pejuang-pejuang Islam. Semoga kita kembali dalam keadaan memegang teguh ketaatan, aamiin.

Penulis: Shofia Rasyida
(Mahasiswi Universitas Al-Azhar)

Login Via Google untuk komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Install MyESI

Install
×
PWA Add to Home Icon

Install this MyESI App on your iPhone PWA Add to Home Banner and then Add to Home Screen

×

Semua Fitur MyESI App

Al-Quran

Hadits

Talaqqi

Tulis

Kuliah

Maps

Market

Web Masisir

Kitab

Wirid & Doa

E-Learning

Maulid

Intif Mesir

DKKM

Qiblat

Copyright © 2026 MyESI App
All rights reserved.