Tradisi Mulia Ulama Al-Azhar Ziarah ke Makam Imam Syafi’i Setiap Jumat
Di masa lalu, para ulama Al-Azhar memiliki tradisi yang indah dan penuh berkah. Setiap hari Jumat, mereka berbondong-bondong menziarahi makam Imam Syafi’i. Tradisi ini, yang kini tampaknya mulai hilang, dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keilmuan dan spiritual mereka.
Awal Mula Tradisi Ziarah
Menurut Syekh Saleh Al-Ja’fari, seorang arif billah dan Imam Masjid Al-Azhar, kebiasaan ini berawal dari seorang ulama besar, Syekh Ali Al-Sa’idi Al-‘Adawi. Ia pernah berkata kepada muridnya, Syekh Ahmad Al-Dardir:
“Engkau sering melihat Rasulullah ﷺ dalam mimpi, maka tanyakanlah tentang keadaanku kepadanya!”
Syekh Ahmad Al-Dardir pun melaksanakan permintaan gurunya. Dalam mimpinya, ia melihat Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ia adalah orang yang saleh, namun memiliki sedikit kekerasan hati.”
Mendengar hal itu, Syekh Ali Al-Sa’idi menangis tersedu-sedu. Ketika muridnya bertanya apa yang membuatnya bersedih, ia menjawab:
“Rasulullah ﷺ menegurku karena kurang sering menziarahi beliau. Namun, usiaku sudah tua, dan aku tidak sanggup lagi melakukan perjalanan jauh ke Madinah.”
Syekh Ahmad Al-Dardir kemudian kembali bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ dan menyampaikan keluh kesah gurunya. Rasulullah ﷺ lalu bersabda:
“Sampaikan kepada Syekh Al-Sa’idi bahwa aku berada di makam Imam Syafi’i setiap hari Jumat, dari setelah Ashar hingga fajar. Biarlah ia menziarahiku di sana.”
Menjadi Tradisi Ulama Al-Azhar
Ketika Syekh Ali Al-Sa’idi mendengar pesan ini, ia segera menyebarkannya kepada para ulama Al-Azhar. Sejak saat itu, ziarah ke makam Imam Syafi’i setiap Jumat menjadi kebiasaan mereka. Dari Ashar hingga fajar, mereka datang bergiliran, silih berganti, menghidupkan malam dengan doa dan munajat.
Zaman itu adalah masa keemasan di mana para ulama benar-benar berpegang teguh pada ilmu dan spiritualitas, serta para pelajar menuntut ilmu dengan penuh ketulusan.
Menghidupkan Kembali Jejak Para Shalih
Kini, tradisi mulia ini seakan mulai pudar. Namun, bagi mereka yang mencintai ulama dan ingin meneladani jejak para shalih, menghidupkan kembali kebiasaan ini adalah langkah yang penuh berkah. Sebagaimana doa yang terukir dalam kisah ini:
“Ya Allah, jika orang lain menghidupkan kembali kenangan orang-orang fasik, maka jadikanlah kami sebagai penghidup kenangan orang-orang saleh!”
Semoga kita termasuk dalam golongan yang mencintai para ulama dan mendapatkan keberkahan dari jejak mereka.
Wallahu a’lam.


and then














