Permasalahan yang Dihadapi Penulis Pemula dan Solusinya
Menulis adalah sebuah seni sekaligus keterampilan yang membutuhkan dedikasi dan pemahaman. Seringkali, para penulis, baik pemula maupun berpengalaman, menghadapi berbagai kendala yang dapat menghambat produktivitas. Ust. Irja Nasrullah, melalui panduannya, memaparkan secara lugas enam tantangan umum dalam menulis dan solusi praktis untuk mengatasinya.
A. Susah Menuangkan Ide/Gagasan dalam Bentuk Kata-Kata
Kebuntuan dalam merangkai kata seringkali menjadi momok bagi penulis. Ust. Irja menawarkan beberapa strategi untuk memperkaya kosakata dan melatih keluwesan berekspresi:
- Perbanyak Membaca: Membaca adalah fondasi utama untuk memperkaya diksi dan pemahaman tata bahasa. Semakin banyak membaca, semakin banyak pilihan kata yang tersedia dalam benak kita.
- Biasakan Menulis Apa Pun: Jangan takut salah. Mulailah dengan menuliskan hal-hal menarik yang ditemui dalam keseharian, mulai dari isi buku, ceramah, khutbah, film, hingga puisi. Latihan ini akan membangun kebiasaan menulis.
- Gunakan Bahasa Lisan: Untuk permulaan, tuangkan gagasan dengan bahasa yang biasa kita gunakan sehari-hari. Ini membantu mengurangi beban mental terkait penggunaan istilah ilmiah atau bahasa baku yang kaku.
- Terbiasa Berdiskusi: Kemampuan berbicara yang baik seringkali berkorelasi dengan kemampuan memilih kata yang tepat dalam tulisan. Diskusi melatih kita menyusun argumen dan menyampaikan ide secara efektif.
- Jangan Menyerah dan Mohon Pertolongan Allah: Ketekunan dan doa adalah kunci. Menulis adalah perjalanan, bukan tujuan instan.
B. Niat Menulis Sangat Kuat, tetapi Tidak Ada Inspirasi
Inspirasi seringkali menjadi elemen misterius. Namun, menurut Ust. Irja, inspirasi bisa dipupuk:
- Perbanyak Tadabur/Kontemplasi: Inspirasi sesungguhnya tersebar luas dalam kehidupan sehari-hari. Kepekaan pikiran dan hati adalah kuncinya untuk menangkap ide-ide segar.
- Perbanyak Membaca, Menonton, dan Mendengar (Hal Positif): Asupan informasi dan hiburan yang positif akan membuka cakrawala pemikiran dan mendatangkan banyak inspirasi.
- Fokus pada Tema/Topik Tertentu: Membatasi fokus pada satu tema akan membantu pikiran lebih terarah dalam mencari dan menemukan inspirasi yang relevan.
- Amati Tren di Masyarakat: Menulis tentang isu-isu yang sedang hangat atau relevan dengan masyarakat dapat memicu ide dan menarik perhatian pembaca.
- Mulai dengan Hobi dan Renjana (Passion): Menulis tentang hal yang kita cintai atau kuasai akan terasa lebih mudah dan menyenangkan, sehingga inspirasi pun mengalir lebih lancar.
C. Buntu di Tengah Proses Menulis, padahal Ide Sebelum Menulis Sangatlah Banyak
Kebuntuan di tengah jalan adalah tantangan umum. Ust. Irja menyarankan pendekatan terstruktur:
- Buat Kerangka Tulisan: Susun poin-poin gagasan secara global dari awal hingga akhir. Kemudian, kembangkan setiap poin dengan keterangan penjelas.
- Kumpulkan Referensi Sebanyak-banyaknya: Data dan referensi yang memadai akan mendukung gagasan dan mencegah kebuntuan. Kumpulkan sesuai kebutuhan.
- Rinci Tiap Poin Berdasarkan Kerangka: Kembangkan setiap poin dengan data/referensi yang telah dikumpulkan. Penting untuk tetap berpegangan pada kerangka awal dan menunda pengeditan inti hingga seluruh tulisan selesai.
- Minta Pendapat Ahli: Jangan ragu meminta masukan dari tokoh, spesialis, atau mereka yang lebih ahli dalam tema tulisan Anda.
- Editing Dilakukan di Akhir: Proses perbaikan ejaan, penyempurnaan diksi, atau penambahan data dilakukan setelah seluruh tulisan tuntas.
D. Kesulitan Mengendalikan Mood
Mood yang tidak stabil dapat sangat memengaruhi produktivitas menulis. Ust. Irja menawarkan tips untuk menjaga kestabilan emosi:
- Ketahui Penyebabnya: Identifikasi akar masalah dari mood yang tidak stabil.
- Perbarui dan Tingkatkan Motivasi Diri: Ingat kembali tujuan awal menulis dan tingkatkan semangat.
- Jadikan Pekerjaan Lebih Realistis: Tetapkan target yang realistis agar tidak mudah merasa terbebani.
- Perhatikan Kondisi Kesehatan: Gizi yang cukup dan istirahat yang memadai sangat penting untuk menjaga energi dan fokus.
- Hindari Kata-kata Negatif: Buang jauh pikiran seperti “tidak mungkin” atau “tidak bisa”.
- Lakukan Pekerjaan dengan Cara Baru/Suasana Baru: Sesekali ubah rutinitas atau tempat menulis untuk menyegarkan pikiran.
- Muhasabah dan Perbarui Keikhlasan: Niatkan menulis sebagai ibadah kepada Allah, hal ini dapat memberikan ketenangan dan motivasi spiritual.
- Segarkan Pikiran Sejenak: Lakukan aktivitas ringan seperti jalan-jalan, membaca buku motivasi, atau menonton hiburan sejenak.
- Sharing dengan Orang Terdekat: Berbagi keluh kesah dengan orang terpercaya dapat meringankan beban pikiran.
- Memohon kepada Allah: Memohon petunjuk, kekuatan, dan kesabaran dalam berproses.
E. Bingung Menuliskan Ending Tulisan (Nonfiksi) / Cerita (Fiksi)
Menutup tulisan dengan baik adalah seni tersendiri. Ust. Irja memberikan panduan:
- Akhir Tulisan (Nonfiksi): Sesuaikan dengan solusi atau kesimpulan yang ingin diberikan kepada pembaca.
- Akhir Cerita (Fiksi): Bisa diakhiri dengan kesedihan (sad ending), kegembiraan (happy ending), atau menggantung (memberi ruang bagi pembaca untuk menentukan sendiri).
- Buat Ending Mengejutkan (Fiksi): Akhir yang sulit ditebak dapat meningkatkan kesan tulisan.
- Ending yang Membuat Penasaran: Jika tulisan akan bersambung, buatlah akhir yang memancing rasa ingin tahu pembaca.
F. Bingung Cara Mengutip Tulisan
Mengutip adalah bagian penting dalam tulisan nonfiksi untuk menjaga integritas akademik:
- Mengutip Sesuai Kaidah Ilmiah: Ikuti pedoman pengutipan dalam tubuh teks atau catatan kaki seperti yang biasa digunakan dalam skripsi, tesis, atau disertasi.
- Menyadur: Ambil inti atau makna tulisan orang lain, tuliskan dengan bahasa sendiri, dan tetap sebutkan sumbernya dalam daftar referensi. Gaya ini lebih fleksibel.
- Kutip Secukupnya, Jangan Bertele-tele: Hindari kutipan yang terlalu panjang atau tidak relevan agar tulisan tetap fokus.
Dengan panduan komprehensif dari Ust. Irja Nasrullah ini, diharapkan para penulis dapat mengatasi berbagai rintangan dan terus berkarya dengan istiqamah. Semoga tulisan ini bermanfaat.


and then














