Mengenal Universitas Al-Azhar
Menjelang seleksi Kemenag 2025, banyak adik-adik yang penasaran tentang studi di Al-Azhar University. Universitas ini awalnya didirikan sebagai Jami’ Al-Azhar oleh Jauhar As-Saqili pada 29 Jumada’ Al-Ula 359 H (970 M) sebagai masjid sekaligus pusat ilmu, terutama setelah Shalahuddin al-Ayyubi mengembangkannya menjadi pusat pembelajaran Islam lintas madzhab fikih. Pada 1930 M, Jami’ Al-Azhar berkembang menjadi Jami’ah Al-Azhar Asy-Syarief, mencetak ulama besar seperti Ibn Khaldun, As-Suyuthi, Al-Maqrizi, serta tokoh modern seperti Syekh Jad al-Haq, Dr. Yusuf al-Qardhawi, Dr. Wahbah az-Zuhaily, dan Dr. Quraish Syihab.
Al-Azhar unik karena menggabungkan pendidikan tradisional dan modern melalui dua kelompok fakultas: ‘Ilmi (sains) dan Adabi (agama). Ini bukan pemisahan, melainkan spesialisasi bidang studi. Kampus ‘Ilmi mayoritas di Nasr City, sementara Adabi di Husein dan Darrasah, Kairo. Meski mengadopsi sistem modern, Al-Azhar tetap mempertahankan identitas Islam, termasuk pemisahan kampus mahasiswa dan mahasiswi di Nasr City. Selain Kairo, Al-Azhar punya cabang di Iskandariyah, Thantha, Manshurah, Zaqaziq, Asyut, Dimyath, dan provinsi lain.
Program Fakultas Adabi (Ilmu Agama) dan Lama Studi
Fakultas Adabi menawarkan program S1 selama empat tahun. S2 memakan dua tahun aktif ditambah satu tahun untuk tesis (meski jarang selesai dalam satu tahun), dengan syarat ujian al-Qur’an (4 juz untuk non-Arab, 30 juz untuk Arab) serta tes tulis dan lisan. S3 mensyaratkan 6 juz al-Qur’an, syahadah S2, dan kerangka disertasi.
Sejak 2009, Al-Azhar mewajibkan wafidin (mahasiswa asing) mengikuti Daurah Lugah (pembekalan bahasa Arab) sebelum kuliah, dengan seleksi tahdid mustawa menentukan kelas. S1 tidak pakai sistem SKS, fokus pada penjelasan doktor dengan sedikit diskusi, tanpa makalah seperti di Indonesia. Sistemnya berdasarkan tingkat (farqah), satu tingkat setahun dengan dua termin, berbeda dari sistem semester. Mahasiswa dari pondok pesantren sering bingung jika ditanya “semester berapa?” dan menjawab “tingkat satu,” yang bisa disalahartikan.
Bahasa Arab sebagai pengantar, dengan banyak native speaker, menjadi keunggulan untuk melatih kemampuan bahasa. Naik tingkat mensyaratkan lulus minimal dua mata pelajaran yang rasib (tidak lulus). Dua mata pelajaran rasib masih bisa diulang (manqul) di tingkat berikutnya. Jika lebih dari dua, mahasiswa harus i’adah (ulang tingkat) dan mengulang ujian mata pelajaran tersebut. Tingkat empat punya ujian tashfiyah untuk dua mata pelajaran rasib; jika gagal, tunggu tahun depan. Kesempatan i’adah dua kali untuk tingkat I-II, empat kali untuk tingkat III-IV. Jika gagal total, mahasiswa dipindah fakultas atau dikeluarkan (drop out).
Biaya S1 sangat terjangkau, sekitar USD20/tahun untuk administrasi. S2 untuk wafidin sekitar LE1500 (USD170), mahasiswa Mesir LE200/tahun. S3 untuk wafidin LE2000, mahasiswa Mesir LE400.
Tips Sukses
Perbaiki niat dan usaha keras, karena Allah membantu yang bersungguh-sungguh. Perjuangan kalian akan jadi saksi kesuksesan.
Baca Juga


and then














