Kenapa Harga Kitab di Ma’ridh Selalu Naik Setiap Tahunnya?

waktu baca 5 menit
Sumber: egyptianstreets.com

Saat masih jadi mahasiswa baru, kita punya banyak uang tapi tak punya daftar kitab untuk dibeli. Sedangkan saat jadi senior, kita punya daftar kitabnya tapi uangnya entahlah dari mana. Barangkali inilah ironi kolektif yang dirasakan oleh banyak masisir setiap musim pameran buku (Ma’ridh) datang.

Terlebih lagi, ketika kita tahu bahwa harga kitab yang diidam-idamkan, akan mengalami kenaikan harga lagi tahun depannya. Seperti kasih yang tak sampai, kitab idaman pun jua tak tergapai.

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah setiap tahun, pengunjung pameran selalu bertambah-tambah, bahkan tahun kemarin (2024) hampir menyentuh 5 juta pengunjung. Lalu faktor apa sebetulnya yang membuat harga-harga kitab ini naik dari tahun ke tahun?

Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya pada Industri Buku

Adalah Attia Nabil, seorang koresponden BBC Mesir, dalam liputannya pada 2023 silam, sempat terkaget-kaget dengan naiknya harga buku di pameran tahun itu (2023) sebesar 80%.

Berdasarkan temuannya, kenaikan harga buku tidak terlepas dari kondisi ekonomi global. Pandemi COVID-19, yang disusul oleh perang di Ukraina, telah mengganggu rantai pasokan internasional. Hal ini menyebabkan kelangkaan bahan baku seperti kertas, tinta, dan bahan cetak lainnya. Di Mesir, kenaikan harga bahan ini diperparah oleh fluktuasi nilai tukar mata uang, khususnya melemahnya pound Mesir terhadap dolar Amerika.

Dina Kabil, seorang staf penerbit di Dar Al Maraya bidang Kebudayaan dan Seni, menyebut bahwa harga satu ton kertas naik dari 18 ribu pound pada tahun 2022 menjadi sekitar 80 ribu pound selama tahun ini (2023), yang memaksa penerbit menaikkan harga buku dan secara signifikan mengurangi margin keuntungan.

Biaya Produksi dan Transportasi yang Tinggi

Kita tahu bahwa bahan baku kertas adalah pohon. Dan pohon bukanlah hal yang dengan mudah tumbuh subur di negeri padang pasir seperti Mesir. Sehingga industri kertas dan percetakan di Mesir terutama dalam hal suplai bahan bakunya masih ketergantungan dengan impor dari luar negeri.

Karam Youssef, staf penerbit di Dar Al-Kutub Khan Publishing and Distribution, menambahkan bahwa kegiatan impor sebenarnya sudah dibatasi sekitar setahun yang lalu (2022), dan kertas adalah salah satu komoditas yang belum diperbolehkan untuk diimpor sehingga pasokannya menjadi sangat sedikit dan tidak memenuhi kebutuhan pasar. Langkanya ketersediaan kertas di pasar domestik menciptakan persaingan untuk menaikkan harga.

Perubahan Gaya Hidup dan Prioritas Pembaca

Krisis global yang tadi kita bahas seolah memberi efek domino kepada masyarakat. Selain kepada penerbit yang kepayahan mengatur buku, masyarakat umum pun dibuat pusing.

Krisis global membuat masyarakat umum berpikir ulang terkait gaya hidup dan prioritas ekonominya. Saat krisis, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan dibandingkan kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Fenomena ini dapat kita jelaskan dengan teori hierarki kebutuhannya Abraham Maslow. Menurutnya, kebutuhan manusia itu divisualisasikan dengan sebuah piramid. Semakin ke bawah semakin tinggi tingkat kebutuhannya.

Maslow membaginya menjadi lima tingkatan.

  • Kebutuhan fisiologis atau dasar (Physiological) 
  • Kebutuhan akan rasa aman (Safety) 
  • Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (Love/belonging) 
  • Kebutuhan untuk dihargai (Esteem) 
  • Kebutuhan untuk aktualisasi diri (Self Actualization).

Manusia cenderung akan memenuhi kebutuhan paling dasar terlebih dahulu baru kemudian beranjak ke tingkatan yang lain. Ini adalah hal yang manusiawi.

Begitu pula dengan kasus Book Fair. Secara umum, sebagaimana yang digambarkan oleh Attia Nabil, masyarakat Mesir masih ragu-ragu antara membeli kebutuhan dasar berupa makanan, pakaian, dan biaya hidup, atau membeli buku atau mengonsumsi berbagai produk-produk kebudayaan, seperti bioskop, teater, dan lain-lain.

Solusi Sementara dari Penerbit

Para penerbit buku tidak tinggal diam. Mereka memutar otak, mengatur strategi, bagaimana buku-buku mereka tetap laku di tengah hambatan di mana-mana.

Salah satu solusi yang dilakukan beberapa penerbit untuk mengatasi krisis harga kertas dan biaya percetakan yang tinggi adalah percetakan “digital” atau dengan percetakan sesuai permintaan (on demand) sebagai alternatif dari sistem “offset” yang memerlukan percetakan dalam jumlah besar dengan biaya selangit. Sedangkan sistem yang baru ini memungkinkan penerbit untuk mencetak beberapa ratus eksemplar buku saja.

Adalah Mohamed Hussein Taima, direktur salah satu penerbit, menempuh cara lain, yaitu mengurangi margin keuntungan buku, dan diskon hingga 40 persen pada beberapa buku. Beliau bahkan menghubungi beberapa penulis untuk mengurangi hak kekayaan intelektual (royalti) guna menurunkan harga buku. Mau tidak mau, semua ini harus dilakukan agar buku-bukunya tetap laku selama kurang lebih dua minggu durasi pameran.

Namun, Taima menekankan bahwa solusi ini bersifat sementara dan hanya berlaku selama pameran berlangsung saja. Tidak menjamin bahwa promosi ini akan terus berlanjut karena kenaikan harga dolar terhadap pound yang mengendalikan harga kertas. dan perlengkapan percetakan yang sebagian besar diimpor dari luar negeri.

Khatimah

Sebetulnya masih banyak faktor-faktor yang lain yang lebih punya kuasa dalam menentukan arah dan kebijakan. Akan tetapi, karena saya masih ingin lebih lama di negeri ini, tentu tidak akan saya sebutkan. Tolong kerjasamanya.

Bagaimanapun, Cairo International Book Fair tahun ini tetap bisa kita rayakan dengan segala lebih kurangnya. Anggap saja harga buku yang selangit itu adalah bentuk kita menghargai ilmu.

Yang paling penting bukan bagaimana buku-buku itu bisa kita beli, kumpulkan, dan simpan di rak-rak berdebu. Tetapi bagaimana literasi itu tetap hidup dan menyala dengan membaca, menulis, dan berdiskusi. Francis Bacon berkata:

“Membaca memperluas pengetahuan seseorang, berdiskusi melatih kemampuan berbicara dan berpikir cepat, sedangkan menulis mengasah ketepatan dalam menyampaikan gagasan”.

Sumber:

BBC Arabic. (2023). معرض القاهرة الدولي للكتاب: كيف أسهم ارتفاع أسعار الورق والحبر في غلاء أسعار الكتب؟. Diakses pada 23 Januari 2025 dari https://www.bbc.com/arabic/middleeast-64467878

Avatar photo
Avatar photo
Avatar photo

Login Via Google untuk komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Install MyESI

Install
×
PWA Add to Home Icon

Install this MyESI App on your iPhone PWA Add to Home Banner and then Add to Home Screen

×

Semua Fitur MyESI App

Al-Quran

Hadits

Talaqqi

Tulis

Kuliah

Maps

Market

Web Masisir

Kitab

Wirid & Doa

E-Learning

Maulid

Intif Mesir

DKKM

Qiblat

Copyright © 2026 MyESI App
All rights reserved.