Menyelami Samudra Kasih Sayang Tuhan Melalui Ar-Rahman dan Ar-Rahim

waktu baca 2 menit

Oleh: Hasyim Asy’ari

Kasih Sayang Tuhan

Kairo, ESI — Semasa menimba ilmu di pesantren, saya sering mendengar para guru memaknai lafaz Ar-Rahman sebagai bentuk kasih sayang Tuhan yang bersifat universal di dunia, meliputi seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali—baik yang beriman maupun yang ingkar. Sementara itu, Ar-Rahim dimaknai sebagai kasih sayang yang bersifat khusus dan mendalam, yang kelak di akhirat hanya akan dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang taat.

Baik Ar-Rahman maupun Ar-Rahim merupakan sifat-sifat keagungan Allah Swt. yang hakikat kedalamannya tak akan pernah mampu dijangkau sepenuhnya oleh nalar manusia. Sebagai makhluk yang terbatas, tentu mustahil bagi kita untuk mendeskripsikan secara sempurna Dzat yang Maha Tak Terbatas.

Dalam menjelaskan sifat-sifat Tuhan, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam salah satu karya tafsirnya menekankan sikap rendah hati intelektual. Beliau menjelaskan bahwa manusia idealnya menyadari bahwa keagungan Tuhan jauh melampaui batas pengetahuan kita. Apa yang kita pahami hanyalah sekelumit dari apa yang diperkenalkan-Nya sesuai dengan kapasitas daya tangkap manusia.

Analogi Keadilan yang Indah

Untuk memudahkan pemahaman (taqribul fahmi), Syekh Sya’rawi, seorang mufasir kenamaan dari Mesir, mencoba memberikan analogi yang sangat relevan mengenai pembagian kedua sifat ini. Beliau mengibaratkan kasih sayang tersebut dengan jumlah sumber daya yang sama, namun dibagikan kepada populasi yang berbeda.

Bayangkan jika terdapat uang sejumlah satu juta rupiah yang dibagikan kepada 100.000 orang siswa. Maka, setiap siswa hanya akan menerima bagian sebesar sepuluh rupiah. Namun, jika uang satu juta rupiah yang sama tersebut hanya dibagikan kepada sepuluh orang siswa pilihan, maka masing-masing dari mereka akan mendapatkan bagian yang jauh lebih besar, yakni 100.000 rupiah per kepala.

Logika ini baru berbicara dari segi kuantitas, belum menyentuh aspek kualitas atau sifatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-A’la ayat 17: “Sedangkan kehidupan akhirat adalah jauh lebih baik dan lebih kekal.”

Keadilan Tuhan yang Melampaui Dunia

Di sinilah letak keadilan hakiki dari Sang Khalik. Berdasarkan pemahaman ini, pertanyaan retoris yang sering muncul seperti, “Mengapa mereka yang tidak beribadah justru terlihat lebih berlimpah harta di dunia?” menjadi tidak relevan lagi. Dunia bukanlah satu-satunya parameter kesuksesan dan kasih sayang Tuhan.

Masih ada fase kehidupan kedua di mana Allah Swt. telah menjanjikan kejutan dan kemuliaan yang luar biasa bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga konsistensi dalam ketaatan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Baqarah ayat 25.

Jika demikian luas dan indahnya janji tersebut, sudahkah kita mempersiapkan bekal terbaik untuk menyongsong hari pertemuan dengan Sang Pemilik Kasih Sayang?

Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 Komentar

Sudah ditampilkan semua
...x dibaca

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi!

Silakan masuk untuk menulis komentar

Sign In Google

Terkait .

Paling Populer .

Filter Kajian

Berdasarkan Lokasi:

Bidang Ilmu:

Tingkatan Kajian:

Semua Layanan MyESI

Pusat akses cepat portal mahasiswa

Quick Menu Saya
Layanan & Fitur Portal
ESI Logo
Portal ESI Masisir © 2026. All rights reserved.