Catatan Kajian Tafsir Jalalain Syeikh Syahawi
Oleh: Nadiah Shohwah
Ada jenis kajian yang membuat kita pulang membawa banyak catatan. Ada pula kajian yang membuat kita pulang sambil curiga kepada diri sendiri: selama ini kita belajar sungguh-sungguh atau sekadar rajin membeli buku?
Kajian Tafsir Jalalain bersama Syeikh Syahawi termasuk jenis yang kedua. Ia tidak berhenti pada kegiatan membuka kitab, membaca baris demi baris, lalu menutupnya ketika waktu kajian selesai. Di sana, sebuah ayat diperlakukan sebagai pintu masuk untuk melihat bagaimana ulama memahami bahasa, konteks, dan pesan Al-Qur’an secara cermat.
Tafsir yang Ringkas, Bukan Berarti Sederhana
Tafsir Jalalain dikenal sebagai karya tafsir yang ringkas. Namanya merujuk kepada dua ulama bernama Jalaluddin: Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Karena itu, kitab ini sering menjadi salah satu rujukan awal bagi pelajar yang ingin berkenalan dengan penjelasan makna ayat secara langsung dan padat.
Namun, ringkas tidak sama dengan sederhana dalam arti boleh dibaca sambil lalu. Justru karena kalimatnya pendek, setiap kata perlu diperhatikan. Satu keterangan kecil dapat berhubungan dengan susunan bahasa Arab, pilihan makna, atau penjelasan yang telah dibahas ulama sebelumnya.
Di sinilah kajian bersama guru menjadi penting. Kitab mungkin hanya memuat beberapa kata, tetapi pembahasannya bisa melebar ke nahwu, sharaf, balaghah, fikih, dan riwayat. Bagi orang yang baru melihatnya, proses itu kadang terasa seperti mengikuti seseorang masuk ke gang kecil yang ternyata tembus ke banyak jalan besar.
Belajar Membaca, Bukan Sekadar Membaca
Dalam mempelajari tafsir, kemampuan membaca teks adalah modal awal. Setelah itu, seorang pelajar perlu belajar membaca maksud, membaca hubungan antarkalimat, dan membaca cara ulama menyusun penjelasan. Perbedaan satu harakat saja dapat mengubah arah pemahaman. Karena itu, ketelitian bukan aksesori dalam kajian keislaman. Ia adalah kendaraan utamanya.
Kadang-kadang kita ingin penjelasan yang cepat. Ayat dibaca, kesimpulan diambil, lalu selesai. Padahal, Al-Qur’an tidak selalu datang untuk memuaskan keinginan kita agar segala sesuatu segera menjadi singkat. Ada ayat yang perlu direnungkan, ada istilah yang perlu ditelusuri, dan ada persoalan yang memang menuntut kita bertanya kepada orang yang lebih berilmu.
Di titik ini, belajar tafsir juga mengajarkan adab intelektual. Kita boleh memiliki pendapat, tetapi tidak semua pendapat layak disebut sebagai kesimpulan. Kita boleh merasa menemukan makna, tetapi rasa menemukan belum tentu sama dengan benar-benar memahami.
Kitab, Guru, dan Kesabaran
Belajar kitab tidak selalu semeriah poster acaranya. Ada hari ketika halaman terasa akrab. Ada pula hari ketika satu paragraf saja seperti sengaja bersembunyi dari pemahaman. Pada saat seperti itu, kesabaran menjadi bagian dari kurikulum yang tidak tertulis.
Guru membantu pelajar melihat bagian yang luput dari perhatian. Beliau menunjukkan mana inti pembahasan, mana pendapat tambahan, dan mana istilah yang sebaiknya tidak diterjemahkan secara serampangan. Kehadiran guru juga mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya dipindahkan melalui tulisan, tetapi melalui cara membaca, cara bertanya, dan cara menghormati proses.
Karena itu, kajian Tafsir Jalalain bukan sekadar agenda untuk menambah isi buku catatan. Ia adalah latihan untuk memperbaiki cara kita berhadapan dengan ilmu. Jangan-jangan selama ini masalah kita bukan kekurangan bahan bacaan, melainkan terlalu cepat merasa sudah selesai membaca.
Catatan untuk Penuntut Ilmu
Dari kajian seperti ini, ada beberapa pelajaran yang layak dibawa pulang. Pertama, ringkasnya sebuah kitab tidak berarti ringkas pula ilmu yang melatarinya. Kedua, memahami ayat memerlukan perangkat keilmuan dan bimbingan guru. Ketiga, keterbatasan pemahaman seharusnya membuat kita lebih rajin bertanya, bukan lebih berani memastikan.
Pada akhirnya, belajar tafsir adalah perjalanan untuk mendekat kepada kalam Allah dengan sikap yang benar. Kita datang membawa rasa ingin tahu, lalu pulang membawa kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Anehnya, kesadaran semacam itu bukan kabar buruk. Ia justru tanda bahwa belajar mulai bekerja.
Semoga catatan ini menjadi pengingat bahwa ilmu tidak selalu hadir dalam bentuk jawaban yang panjang. Kadang-kadang ia muncul sebagai satu kalimat singkat yang membuat kita berhenti, berpikir, lalu membuka kembali kitab dengan perhatian yang lebih baik.

