Bidadari Masisir

waktu baca 3 menit

Menjelang malam ini, saat lalu lalang kendaraan mulai menyepi, bus 80 coret yang saya tumpangi telah sampai di Mahatoh Darrosah. Angin yang begitu dingin tanpa salam menyelonong masuk begitu saja, melalui pintu pori-pori hingga menusuk tulang. Saya katupkan kedua telapak tangan saya sembari menggesek-gesekkannya.

Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar suara wanita yg berteriak histeris. “Haromi, haromi, haromi, tas saya dicopet. Tolong…”. Wanita itu menangis. Semakin menjadi. Tangannya menunjuk kepada seorang lelaki berbadan kurus, tinggi, berambut ikal dan bercelana cingkrang yang berlari terbirit-birit menuju ke arah pintu keluar.

Melihatnya, seketika saya langsung menghadangnya. Ia sangat paham. Ia memberi perlawanan. Segera ia arahkan pukulan kerasnya tepat ke arah muka saya. Namun saya sudah siap. Secepat gerak tangannya, secepat itu pula diri saya menghindar. Saya pegang erat tangan si haromi itu dari arah kanannya serta memutar badan saya ke arah kanan dan menyusulnya dengan gerakan kaki yang menjagalnya dari arah belakang. Dan seketika, ia langsung tumbang. Tanpa pikir panjang langsung saya hantamkan pukulan keras saya gantian tepat di arah mukanya. Sayangnya ia menyerah dan melindungi mukanya dengan dompet yang ia copet tadi. Kemudian ia tak bisa berkutik dan minta ampun seraya menyerahkan dompet itu kepada saya.

Saya segera dihampiri oleh wanita yang kecopetan tadi. Ternyata, dari kejauhan ia memperhatikan saya. Tubuhnya tinggi. Mungkin hanya 15 centi selisih dengan saya. Pakaiannya rapi, seluruh tubuhnya tertutupi oleh gamis berwarna jingga yang bermotif bunga-bunga. Ditambah garis putih rintik-rintik yang mengguyur seluruh gamis itu. Sungguh perpaduan warna dan corak yang mempesona, bagai wilayah yang beriklim tropis yang akan memanjakan siapa saja yang akan tinggal bersamanya.

Wanita itu senyum dihadapan saya. Ia katupkan kedua telapak tangannya sebagai isyarat sapa yang penuh takdzim. Wajahnya berseri-seri, putih, bersih. Pipinya merah merona, ditambah ada sedikit cekungan di kedua sudut bibirnya. Semakin menandakan bahwa ia adalah gadis yang memiliki sejuta pesona. Senyumnya tulus, merekah, bagai bunga-bunga taman yang sedang bermekaran. Saya balas ia dengan senyuman yang sama, seraya mengembalikan dompet yang telah berhasil saya renggut dari tangan biadab haromi tadi.

“Ini, Tazah… lain kali hati-hati”. Ucap saya seraya menundukkan kepala.

Ia menerimanya dengan bangga, sembari menatap saya dengan tatapan yang penuh mesra.

“Terima kasih ya, Ustaz”, ucapnya. “Ustaz sungguh berhati mulia. Saya tidak tahu bagaimana jika tadi tas saya tidak bisa kembali. Di dalamnya terdapat barang-barang berharga yang tidak dapat tergadaikan. Sekali lagi, terima kasih ya, Ustaz…”. Suaranya lirih, halus, lembut nan sejuk bagai hembusan angin yang membawa embun pagi.

“Iya, Tazah, sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai sesama muslim”. Tiba-tiba ia meraih tangan saya. Memegangnya dan menatap mata saya. Dengan tatapan mesra. Saya pun menatapnya. Saya merasakan tangannya yang halus dan tatapannya yang tulus. Hingga melahirkan tegangan yang memusat ke bagian tertentu. Agak lama, tatapanku dan tatapannya saling bertemu.

Baru kemudian, “Darrosah, Darrosah, Darrosah… Enta Nazil Fein…?!”. “Darrosah…” jawabku.
“Aho, Hena Darrosah!”.
Uwalah. Saya pun tersadar dan segera turun dari bus.

Login Via Google untuk komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 Komentar

  1. rahmatdiblack

    nice guy.. :v

    Reply
Sudah ditampilkan semua

Install MyESI

Install
×
PWA Add to Home Icon

Install this MyESI App on your iPhone PWA Add to Home Banner and then Add to Home Screen

×

Semua Fitur MyESI App

Al-Quran

Hadits

Talaqqi

Tulis

Kuliah

Maps

Market

Web Masisir

Kitab

Wirid & Doa

E-Learning

Maulid

Intif Mesir

DKKM

Qiblat

Copyright © 2026 MyESI App
All rights reserved.