Berinteraksi dengan Muqarrar Al-Azhar
Oleh: Ulyadi Yesmar, Lc.
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Ia juga merupakan kemuliaan yang menjadi ukuran bagi tinggi dan rendahnya derajat seseorang di sisi Allah SWT. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadalah: 11). Bahkan dalam sebuah hadisnya, Rasulullah SAW menyatakan bahwa menuntut ilmu merupakan jalan yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju surga-Nya, “Barang siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” Imam Ali pernah berwasiat kepada Kumail, “Wahai Kumail, ilmu itu lebih bermanfaat daripada harta. Ilmu dapat menjagamu, sedangkan hartamu, kamulah yang menjaganya.”
Selain beberapa kutipan di atas, masih banyak dalil lain yang menerangkan keutamaan menuntut ilmu. Semua itu menunjukkan betapa Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Hal inilah yang menjadi salah satu pendorong banyaknya pelajar dari berbagai negeri untuk belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Sudah tidak asing lagi bahwa belajar di Universitas Al-Azhar identik dengan apa yang dikenal sebagai muqarrar. Bila Al-Azhar disebut, maka pikiran kita teringat pada muqarrar, begitu juga sebaliknya. Begitulah kedekatan antara Universitas Al-Azhar dengan muqarrar. Namun, apakah yang dimaksud dengan muqarrar? Dan apa kiat-kiat untuk menguasainya? Tulisan ini merupakan salah satu usaha untuk menguak misteri yang tersimpan di balik istilah tersebut. Semoga kita diberi taufik oleh Allah SWT dalam pembahasan ini.
Mengenal Muqarrar
Muqarrar adalah sebutan bagi diktat kuliah yang berisi materi-materi pelajaran di Universitas Al-Azhar. Diktat ini ditetapkan oleh pihak Al-Azhar sebagai bahan ujian di setiap semester. Sebagian besar diktat tersebut ditulis langsung oleh para doktor yang mengampu mata kuliah. Terkadang, ada juga materi yang diambil langsung dari kitab-kitab turats atau teks klasik yang relevan.
Selain sebagai sebutan bagi diktat kuliah, muqarrar juga digunakan sebagai istilah untuk subjudul yang akan diujikan pada imtihan (ujian) semester. Artinya, bagian yang akan masuk dalam ujian dinamakan muqarrar, sedangkan bagian yang tidak diujikan disebut ghairu muqarrar atau mahzuf. Biasanya, informasi ini diumumkan menjelang masa ujian.
Namun, kita tidak perlu menunggu pengumuman tersebut hanya untuk mulai membaca. Sebaiknya, baca terlebih dahulu seluruh diktat kuliah secara menyeluruh agar bisa menyerap manfaat ilmu yang lebih luas. Setelah pengumuman resmi keluar, barulah fokus pada materi yang ditetapkan sebagai muqarrar. Semakin banyak pengulangan (murojaah), maka semakin baik pula persiapan dalam menghadapi ujian semester.
Persiapan Menguasai Muqarrar
Bentuk interaksi dengan muqarrar bukanlah sekadar membaca dari awal sampai akhir sebelum ujian dimulai. Interaksi ini berawal dari sejauh mana mahasiswa memiliki perangkat pendukung. Di antaranya adalah:
1. Keikhlasan Niat
Persiapan utama seorang penuntut ilmu adalah keikhlasan kepada Allah SWT. Menuntut ilmu bukanlah sekadar menyimpan materi dalam ingatan untuk kemudian dilupakan setelah ujian usai. Ilmu dipelajari untuk diamalkan dalam kehidupan. Dengan niat yang ikhlas, setiap proses belajar akan bernilai ibadah. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan bertakwalah kamu kepada Allah, dan Allah akan mengajarkanmu.” (QS. Al-Baqarah: 282).
2. Tekad dan Cita-Cita Tinggi
Banyak orang gagal karena tidak memiliki arah yang jelas. Tanpa cita-cita, seseorang tidak tahu ke mana langkah harus diayunkan. Sebaliknya, orang yang memiliki visi akan melihat tujuannya terbentang jelas. Rintangan baginya hanyalah warna yang menghiasi perjalanan. Milikilah tekad yang kuat, karena tekad adalah bahan bakar utama dalam meraih target intelektual.
3. Penguasaan Bahasa Arab
Bahasa Arab adalah perangkat terpenting karena muqarrar ditulis dalam bahasa tersebut. Pelajar yang mahir berbahasa Arab akan jauh lebih cepat memahami materi dibandingkan yang masih bergantung pada kamus. Kelebihan menguasai bahasa ini antara lain: efisiensi waktu, pemahaman yang presisi, serta kemampuan mengekspresikan jawaban dalam tulisan saat ujian.
4. Menghafal Al-Qur’an Lebih Awal
Mencicil hafalan Al-Qur’an sejak jauh hari sangat membantu mahasiswa. Saat mendekati masa ujian, mereka yang sudah hafal tidak akan terburu-buru dan bisa membagi waktu lebih leluasa untuk mendalami materi kuliah lainnya.
5. Menghadiri Muhadharah (Kuliah)
Jangan menyepelekan kuliah tatap muka. Melalui penjelasan doktor, kita dapat memahami penekanan materi yang diinginkan. Seringkali, doktor memberikan isyarat penting terkait poin-poin yang perlu diperhatikan dalam ujian. Meskipun bahasa pengantarnya terkadang menggunakan bahasa Amiyyah, hadir secara rutin akan melatih pendengaran kita untuk terbiasa memahami penjelasan dosen secara bertahap.
6. Manajemen Waktu dan Teknik Membaca
Gunakan waktu secara efisien dengan manajemen yang baik. Dalam membaca, jangan langsung menelan kata demi kata. Mulailah dengan tahap pengenalan (judul, daftar isi, profil pengarang), lalu pelajari subjudul, hingga akhirnya membaca secara mendalam sambil menandai poin-poin penting dengan stabilo atau catatan kecil.
Sebagai penutup, semuanya kembali pada diri masing-masing. Percaya dirilah bahwa Anda mampu menaklukkan setiap materi. Mintalah pertolongan kepada Allah, bertawakallah, dan melangkahlah dengan bismillah.
Wallahu a’lam bisshawab.

