Apa yang Sebenarnya Kita Risaukan?

waktu baca 3 menit

Oleh: Khairul Umi Salamah

Keresahan adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Hampir tidak ada individu yang luput dari rasa cemas dalam bentang kehidupannya. Kita sering kali terjebak dalam pusaran kekhawatiran tentang banyak hal: perkembangan zaman yang kian cepat, dinamika sosial, hingga ketidakpastian masa depan. Namun, pertanyaannya adalah, ke mana arah kerisauan kita sebenarnya? Apakah pada jabatan, harta, martabat, atau gemerlap dunia lainnya?

Faktanya, mayoritas manusia cenderung mengarahkan keresahannya pada hal-hal yang bersifat duniawi semata. Seorang ayah yang risau akan nafkah bagi keluarganya, orang tua yang cemas akan masa depan anak-anaknya, seorang guru yang memikirkan perkembangan muridnya, hingga para pemuda yang gelisah menanti jodoh. Meski wajar, sering kali kerisauan ini membatasi pandangan kita dari hal yang jauh lebih krusial.

Kita sering lupa untuk merisaukan kondisi batin dan spiritualitas diri sendiri. Sudah benarkah akidah kita? Sudah mantapkah akhlak yang kita tampilkan? Seberapa dekat hubungan kita dengan Sang Pencipta? Jangan-jangan, segala keresahan duniawi yang datang bertubi-tubi merupakan teguran halus dari Allah karena kita telah menjauhkan-Nya dari pusat kehidupan kita.

Bagi para penuntut ilmu, ada satu keresahan yang sering terabaikan: waktu. Waktu sering kali melesat lebih cepat daripada ikhtiar kita dalam menyerap ilmu. Sudah setahun bermukim di negeri ini, namun apa yang sudah diraih? Bahkan penguasaan bahasa fushah pun masih jauh dari harapan. Lantas, untuk apa waktu-waktu yang telah berlalu itu kita habiskan?

Kerisauan sejati seharusnya menjadi bahan evaluasi diri. Kita perlu menengok kembali bagaimana cara kita mengatur prioritas hidup. Sudahkah seimbang antara urusan dunia dan persiapan akhirat? Ataukah kita masih terlalu sibuk bergelut dengan hal-hal yang manfaatnya sangat sedikit? Tempatkanlah kembali diri kita sebagai seorang hamba, dan fokuskanlah energi pada hal yang memberikan kebermanfaatan jangka panjang.

Ingatlah pesan agung dalam Al-Qur’an: “La Tahzan, Innallaha Ma’ana” (Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita). Setiap keresahan sejatinya sudah memiliki jawaban di sisi-Nya. Hanya saja, manusia sering kali memilih jalan yang berliku. Adukanlah segala kegelisahan itu kepada Allah, karena hanya Dia yang mampu memudahkan setiap urusan.

Saat segala risau telah diadukan, bukan berarti tantangan hidup akan hilang begitu saja. Seorang ayah mungkin tetap harus bekerja keras, namun rasa cemasnya akan sirna karena ia paham bahwa bekerja adalah kewajiban, sementara hasil adalah hak prerogatif Allah. Ia percaya bahwa ikhtiar yang sungguh-sungguh akan dicukupkan oleh-Nya.

Bekerja tanpa melibatkan Allah hanya akan melahirkan kelelahan fisik dan batin yang tak berujung. Sebaliknya, berdoa tanpa bekerja adalah kesia-siaan. Keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal adalah kunci kedamaian hati.

Pesan untuk kita: Jangan risaukan hal-hal yang sudah menjadi kehendaknya Allah. Jangan biarkan kecemasan berubah menjadi mimpi buruk yang melumpuhkan langkah. Yakinlah, setiap masalah datang sepaket dengan solusinya.

Refleksi diri

#ESI #RefleksiMasisir #Tawakal #Ikhtiar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 Komentar

Sudah ditampilkan semua
...x dibaca

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi!

Silakan masuk untuk menulis komentar

Sign In Google

Terkait .

Paling Populer .

Filter Kajian

Berdasarkan Lokasi:

Bidang Ilmu:

Tingkatan Kajian:

Semua Fitur MyESI App

ESI Logo
Copyright © 2026 MyESI App. All rights reserved.