Waktu Pengucapan Subhanallah dan Masyaallah yang Tepat Menurut Para Ulama
Oleh: Admin ESI
Kairo, ESI — Belakangan ini, terdapat diskusi menarik di tengah masyarakat mengenai kapan sebenarnya momen yang paling tepat untuk mengucapkan kalimat thayyibah “Subhanallah” dan “Masyaallah”. Sering kali kita mendapati penggunaan kedua kalimat ini tertukar dalam percakapan sehari-hari. Artikel ini akan mencoba menguraikan permasalahan tersebut melalui dua perspektif pendapat yang berbeda namun memiliki titik temu yang indah.
Makna Dasar Subhanallah dan Masyaallah
Sebelum membahas waktu pengucapannya, penting bagi kita untuk memahami arti mendalam dari kedua kalimat mulia tersebut:
- Subhanallah (سبحان الله): Memiliki arti “Mahasuci Allah”. Kalimat ini menegaskan bahwa Allah Swt. suci dari segala bentuk keburukan, kekurangan, maupun cacat. Ungkapan ini merupakan pengakuan atas keagungan mutlak Sang Pencipta.
- Masyaallah (ماشاء الله): Memiliki arti “Apa yang dikehendaki Allah (maka terjadilah)”. Kalimat ini merupakan ungkapan kekaguman atas segala sesuatu yang terjadi semata-mata karena kehendak dan kuasa Allah.

Pendapat Pertama: Berdasarkan Konteks Keheranan
Pendapat pertama menyatakan bahwa kalimat tasbih (Subhanallah) diucapkan ketika seseorang merasa heran terhadap suatu sikap, takjub pada peristiwa yang tidak terduga, atau saat mendengar sesuatu yang tidak pantas dinisbatkan kepada Allah Swt.
Landasan utamanya adalah hadis Abu Hurairah r.a. yang pernah bertemu Nabi saw. dalam kondisi junub, lalu ia pergi mandi tanpa pamit karena merasa tidak pantas duduk bersama Rasulullah dalam keadaan tidak suci. Menanggapi hal itu, Nabi saw. bersabda: “Subhanallah! Sesungguhnya seorang muslim itu tidak najis.” (HR. Bukhari). Di sini, Nabi saw. menggunakan kalimat tersebut untuk mengungkapkan keheranan atas persepsi Abu Hurairah.
Sementara itu, menurut pendapat ini, “Masyaallah” diucapkan justru saat melihat sesuatu yang indah atau menyenangkan sebagai bentuk pujian atas kehendak Allah, merujuk pada surah Al-Kahfi ayat 39: “Mengapa kamu tidak mengucapkan ‘Masyaallah, laa quwwata illaa billah’ saat memasuki kebunmu?”

Pendapat Kedua: Berdasarkan Peran Makhluk
Pendapat kedua memberikan rincian yang lebih spesifik mengenai keterlibatan peran manusia:
- Subhanallah: Diucapkan saat melihat keajaiban atau keindahan yang murni merupakan kekuasaan Allah tanpa campur tangan manusia sedikit pun. Contohnya: pemandangan alam yang megah, fenomena gerhana, hingga mukjizat para nabi. Hal ini didasari oleh surah Al-Isra’ ayat 1 yang mengagungkan Allah atas peristiwa Isra Mikraj yang murni kuasa-Nya.
- Masyaallah: Diucapkan saat melihat keindahan atau pencapaian yang di dalamnya terdapat peran atau ikhtiar manusia. Contohnya: bangunan yang megah, anak yang cerdas dan berprestasi, hingga teknologi yang canggih. Dalam surah Al-Kahfi ayat 39, objeknya adalah kebun, di mana selain izin Allah, terdapat pula usaha pemilik kebun dalam menanam dan merawatnya.
Terlepas dari perbedaan rincian di atas, esensi dari kedua kalimat tersebut adalah bentuk zikir dan pengakuan kita sebagai hamba. Semoga kita tidak lagi terjebak dalam perdebatan teknis, melainkan semakin istikamah membasahi lisan dengan kalimat-kalimat thayyibah ini dalam setiap kondisi. Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Ambang Fajar Bagaskara

