Wawancara Eksklusif: Mengenal Sosok Dr. Ahmad Ikhwani Syamsuddin dan Perjalanan 20 Tahun di Mesir (Bagian 1)
Kairo, ESI — Siapa yang tidak mengenal Dr. Ahmad Ikhwani Syamsuddin? Beliau adalah sosok inspiratif yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di bidang hadis dengan predikat Summa Cum Laude di Universitas Al-Azhar, Kairo. Keberhasilan beliau mendapatkan nilai sempurna ini mengundang decak kagum dari berbagai kalangan.
Bahkan, salah satu penguji disertasinya, Prof. Dr. Ahmad Ma’bad—seorang anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar sekaligus pakar hadis kenamaan zaman ini—memberikan pujian setinggi langit. Beliau menyatakan bahwa Dr. Ahmad Ikhwani telah mencapai derajat pemahaman yang sangat mendalam terhadap hadis, baik dari sisi sanad maupun matan.
Beberapa waktu lalu, tim ESI berkesempatan menemui Dr. Ahmad Ikhwani di kediaman beliau untuk berbincang santai namun mendalam mengenai pengalaman hidupnya selama dua dasawarsa di Mesir. Berikut adalah bagian pertama dari petikan wawancara tersebut.
Mengapa Memilih Mesir sebagai Destinasi Studi?
ESI: Apa yang sebenarnya memotivasi Ustaz untuk menuntut ilmu hingga ke Mesir?
Dr. Ahmad Ikhwani: Keinginan untuk belajar di Mesir sebenarnya sudah tumbuh sejak saya masih di Madrasah Aliyah (MA). Saat itu, saya mengambil Program Khusus (PK) yang memang berfokus pada materi agama dengan pengantar bahasa Arab dan Inggris. Sejak saat itu, saya merasa bahwa studi ke luar negeri adalah jalan terbaik bagi saya, meskipun dulu saya tidak berani bermimpi terlalu muluk.

Faktor lain yang mendorong saya adalah iklan-iklan mengenai studi di Mesir yang sering saya baca. Namun, tantangannya adalah akses informasi di daerah asal saya (Lampung) tidak semudah di Jawa, apalagi saat itu internet belum semasif sekarang.
Setelah lulus MA, saya mencoba mendaftar beasiswa ke Jakarta namun belum berhasil. Bagi saya saat itu, beasiswa adalah satu-satunya jalan karena keterbatasan ekonomi. Saya tidak berani mengambil risiko untuk berangkat secara mandiri.
Karena gagal di percobaan pertama, saya sempat berkuliah di Yogyakarta selama dua tahun. Namun, ketika pengumuman beasiswa ke Mesir kembali dibuka pada tahun 1998, saya mencoba peruntungan lagi. Alhamdulillah, saya diterima bersama 73 orang lainnya, termasuk di antaranya adalah Ustaz Abdul Somad.
Kilas Balik Kondisi Mesir Tahun 1998
ESI: Bagaimana gambaran kondisi Mesir saat pertama kali Ustaz tiba di sana?
Dr. Ahmad Ikhwani: Mesir saat itu sangat jauh berbeda dengan sekarang, baik dari segi alam, masyarakat, maupun ekonominya. Akses teknologi masih sangat terbatas; belum ada internet maupun ponsel. Untuk memberi kabar ke keluarga, saya hanya mengandalkan surat fisik.
Lucunya, surat-surat yang saya kirim tiap 2-3 bulan itu ternyata tidak pernah sampai ke rumah. Saya baru tahu hal ini tiga tahun kemudian saat bertemu saudara yang sedang menunaikan haji. Saya sempat dimarahi karena dianggap tidak memberi kabar selama tiga tahun. Intinya, saat itu saya sudah benar-benar pasrah dengan keadaan.
Satu hal yang paling berkesan adalah aktifnya forum-forum diskusi ilmiah. Kami membuat kelompok-kelompok belajar bahasa Arab dan Inggris untuk membedah diktat kuliah. Karena dulu belum ada PDF, kami harus menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk mencari referensi. Kondisinya memang lebih berat, namun hal itu justru memacu kami untuk lebih produktif dalam menulis jurnal dan buletin.
Bertahan di Tengah Krisis dan Keterbatasan
ESI: Bagaimana cara Ustaz bertahan, terutama saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998?
Dr. Ahmad Ikhwani: Saat itu kondisi memang sangat sulit. Nilai dolar melonjak tajam, dan banyak pelajar yang terpaksa pulang ke Indonesia. Menariknya, masyarakat Mesir sangat peduli. Mereka merasa malu jika ada penuntut ilmu di negerinya yang kelaparan. Saya ingat ada warga lokal yang datang ke KBRI hanya untuk menyumbangkan uang semampunya demi membantu mahasiswa Indonesia.
Untuk menambah penghasilan, sejak tahun ketiga saya mulai belajar menerjemahkan buku-buku Arab ke dalam bahasa Indonesia. Awalnya kami membuat kelompok diskusi hadis dan mengirimkan hasilnya ke penerbit. Alhamdulillah, akhirnya kami dipercaya untuk menerjemahkan berbagai kitab yang saat itu sangat diminati di tanah air. Hingga kini, total ada sekitar 33 buku yang sudah saya terjemahkan.

—
Lanjut Membaca:
• Wawancara Bagian 2: Perjalanan Akademik dan Pengalaman Bekerja

