Identitas dan Pergulatan Persepsi Trailer Film The Santri
Oleh: Muhammad Rifki

Belum ada indikator yang disepakati secara universal mengenai istilah genre film islami. Para praktisi dan analis film memberikan perspektif yang berbeda-beda sesuai dengan indikator masing-masing. Rachel Dawel dalam bukunya Filming The Gods (2006) membagi genre film religi ke dalam dua model utama: film mitologis dan film ketakwaan (devotional film).
Dua model ini lahir dari pengamatannya terhadap perfilman India. Dalam ranah sinematis India, genre religi mitologis menjadi pelopor. Ini merupakan wujud visualisasi kehidupan para dewa dan pahlawan dari khazanah besar mitologi Hindu, seperti yang biasa ditemui pada epik Sanskerta, Mahabharata dan Ramayana.
Sementara itu, model ketakwaan (devotional) dibedakan dari film mitologis karena lebih cenderung menggambarkan kehidupan orang-orang suci yang mendarmabaktikan hidup mereka untuk agama.
Senada dengan Rachel, Melanie J. Wright dalam bukunya Religion And Film (2007) menilai bahwa beberapa film justru berporos kuat pada nilai-nilai agama. Narasi yang dibangun, pengembangan karakter, serta alur cerita berpijak pada sandaran religius. Wright memberikan contoh berupa penanaman ideologi seperti gaya hidup (lifestyle), keramahtamahan, dan pengorbanan.
Karakteristik Film Agama di Indonesia
Di Indonesia sendiri, Nazaruddin (2007) yang mengamati lima sinetron televisi menyimpulkan tiga karakteristik utama sinetron agama. Pertama, penggunaan simbol-simbol Islam, seperti judul yang menggunakan idiom Islam (misalnya: Rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, dan Pintu Hidayah), serta tokohnya yang mengenakan atribut muslim. Kedua, alur cerita banyak diadaptasi dari buku-buku Islam, bahkan sebagian dari hadis. Ketiga, selalu menampilkan sosok kiai atau ulama.
Dari uraian di atas, kita dapat menarik benang merah mengenai genre islami. Karakteristik ini secara implisit menjadi tolok ukur tersendiri. Lacey (2000) menjelaskan bahwa sebuah film dimasukkan ke dalam genre tertentu bergantung pada beberapa elemen: jenis perwatakan (types of characters), latar (setting), ikonografi, narasi, tema, dan gaya (style).
Kesimpulannya, film bergenre islami umumnya ditandai dengan simbol-simbol keagamaan, ritual, budaya, representasi komunitas agama, serta tema-tema yang berkaitan dengan spiritualitas.
Polemik Trailer The Santri
Melalui cuplikan (trailer) The Santri, film garapan sutradara Livi Zheng ini dinilai tidak cukup kuat untuk merepresentasikan nilai-nilai pesantren, padahal judulnya secara eksplisit mengacu pada kehidupan santri di pondok.
Alih-alih menjadi representasi pesantren, Livi Zheng seolah membawa narasi film ini keluar dari zona aslinya. Adegan yang diperankan oleh Gus Azmi dan Wirda Mansur tergolong rumit dan menciptakan ruang pertarungan ideologis mengenai identitas santri yang sesungguhnya.
Dalam sebuah esainya, Mushthafa (2008) mencoba membandingkan karya seni ‘islami’ dan karya bergaya ‘pesantren’. Ada garis pembeda yang jelas di antara keduanya. Dalam dekade terakhir, layar kaca tanah air banyak digandrungi film-film bergenre islami, mulai dari Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, hingga Perempuan Berkalung Sorban.
Film-film dengan model islami lebih menyuarakan semangat keislaman yang modern. Ini merupakan sebuah gelombang baru dakwah Islam kelas menengah urban dalam memerangi apa yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Islam di Indonesia. Sebaliknya, karya yang bergaya pesantren lebih mengidentifikasi latar belakang keseharian dan karakter murni dunia pesantren, seperti pada film Negeri 5 Menara.
Kegagalan dalam mengenali dua model ini akan berdampak pada persepsi penikmat film, terutama di kalangan santri dan khalayak umum. Hal ini sejalan dengan temuan Nancy Smith-Hefner (2007) mengenai perbedaan antara kelompok muslimah urban yang mendadak taat di lembaga sekuler dengan aktivis muslim dari sekolah-sekolah agama. Kelompok pertama sering kali menunjukkan ketaatan di muka umum namun diiringi kegelisahan, sementara kelompok kedua yang sudah merasa aman dengan keimanannya cenderung lebih inklusif.
Identitas Film Religi Nasional
Tampil sebagai adaptasi novel, Ayat-Ayat Cinta hadir merepresentasikan nilai-nilai keislaman yang jarang ditemui dalam perfilman tanah air saat itu. Menampilkan sosok muslim muda yang bergaya, matang, dan taat beragama, film ini menjadi antitesis bagi film romansa sekuler seperti Ada Apa Dengan Cinta? (2002).
Dampak Ayat-Ayat Cinta sangat dahsyat, bahkan menarik perhatian para petinggi politik untuk menunjukkan apresiasi menjelang Pemilu 2009 demi mendongkrak citra mereka sebagai muslim yang taat.
Sementara itu, The Santri yang diinisiasi oleh PBNU justru menjadi sorotan yang berbeda. Meski mengangkat tema pesantren dan direncanakan rilis bertepatan dengan Hari Santri untuk menyedot jutaan penonton, film ini (sebagai tandingan film Hayya) malah mendapat kecaman. Sebagian kalangan menganggap film ini gagal merepresentasikan kehidupan santri yang taat dan terkesan bertolak belakang dengan syariat Islam.
Sebagai upaya menggambarkan Islam moderat, film ini menampilkan potret ‘santri modern’. Dibintangi oleh figur publik religius seperti Gus Azmi, Wirda Mansur, dan Veve Zulfikar yang memiliki jutaan pengikut di media sosial, The Santri tampaknya ingin menjangkau generasi milenial.
Namun, di bawah arahan Livi Zheng yang memiliki ambisi pasar kelas Hollywood, film ini memperlihatkan ketidakpuasan di kalangan generasi santri terdidik. Kegagalan Livi dalam menciptakan realisme pesantren membuat film ini terasa tidak sepenuhnya bernuansa islami.
Unsur-unsur yang ditawarkan dalam The Santri justru mengingatkan kita pada gaya Hollywood bercampur sinetron lokal. Berbeda dengan Ayat-Ayat Cinta yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy berdasarkan pengalamannya menempuh studi di Mesir dengan niat dakwah, The Santri tampaknya lebih fokus pada ekspansi pasar.
Livi Zheng menjanjikan pemutaran film ini hingga ke kancah internasional. Demi menarik minat penonton global, sebagian latar cerita bahkan dimainkan di Amerika Serikat. Keputusan ini memantik perdebatan mengenai sejauh mana ‘kepesantrenan’ film ini dipertahankan. Ini adalah fenomena umum: konsumen dari sebuah identitas kultural kerap kecewa ketika identitas tersebut dimodifikasi untuk masuk ke medium pasar yang lebih luas.
Livi harus meniti jalan sempit di antara dua tekanan: keinginan PBNU untuk menampilkan kehidupan santri yang moderat dan ramah, serta ambisi komersialnya agar film ini memiliki daya tarik global seluas-luasnya.
Penutup
Di Indonesia saat ini, kita tengah menyaksikan proses Islamisasi modernitas sekaligus modernisasi Islam. Pertarungan pengaruh sinematis hanyalah satu bagian dari proses rumit tersebut. Bagi saya, The Santri tidak sepenuhnya berhasil menyandarkan nilai-nilai pesantren dalam proses Islamisasi ini, dan gagal menyajikan identitas murni yang diidamkan oleh kalangan santri itu sendiri.
Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara

