Menjemput Perubahan Ditunggu atau Dikejar

waktu baca 3 menit

Oleh: Naufal Muammar

Menjemput Perubahan

Zaman terus berlalu, dan kaum muslimin pun mengalami perputaran peradaban sebagaimana halnya rotasi bumi. Fase kemajuan dan kemunduran adalah keniscayaan yang tak dapat dielakkan dari ruang lingkup kehidupan ini. Terkhusus jika kita berbicara mengenai era kejayaan kaum muslimin pada masa Bani Umayyah di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, ataupun era Bani Abbasiyah dengan figur Harun ar-Rasyid-nya. Tentu saja, kita merasa sangat sukar untuk sekadar menggapai kembali zaman keemasan tersebut.

Tidak ada perselisihan yang berarti dalam menyikapi fakta sejarah ini. Kalaupun masih ada yang mendebatkannya, ibarat sisa lemak makanan di telapak tangan—sedikit dan tidak substansial.

Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kejayaan bagi kaum beriman hanya bermodalkan label ‘Mukmin’ belaka, tanpa menuntut tindakan nyata apapun dari mereka, maka pantaslah kita mempertanyakan di manakah letak kekuatan orang-orang mukmin yang termaktub dalam firman Allah:

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang Mukmin. (QS. Al-Munafiqun: 8)

Begitu pula dengan firman Allah: “Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman” (QS. Ar-Rum: 47). Seandainya ayat ini diartikan bahwa Allah akan menolong umat Islam tanpa menuntut kelebihan atau usaha apapun selain deklarasi diri sebagai muslim, maka sungguh kita patut terheran-heran dengan kondisi ketertinggalan umat saat ini.

Sunnatullah dalam Meraih Perubahan

Akan tetapi, nas-nas atau teks-teks dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah ingkar janji. Al-Qur’an pun tidak pernah berubah. Yang berubah sejatinya adalah umat Islam itu sendiri. Hal ini telah diperingatkan dengan tegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Jika karakter dan etos kerja umat Islam telah berubah menjadi negatif, maka justru akan sangat mengherankan jika Allah tidak mengubah keadaan mereka menjadi terpuruk dan lemah, setelah sebelumnya mencicipi kemuliaan dan kejayaan. Jika Allah tidak mengubah keadaan mereka (akibat kemalasan mereka sendiri), hal itu justru bertentangan dengan prinsip keadilan Tuhan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Adil.

Kemuliaan Tidak Datang dengan Berpangku Tangan

Bagaimana mungkin logika Anda bisa menerima jika ada suatu umat yang ditolong Allah tanpa mereka berbuat apa-apa? Umat yang mendambakan aneka kebaikan seperti yang dilimpahkan kepada para pendahulu mereka, padahal mereka hanya duduk berpangku tangan tanpa mewarisi tekad dan semangat juang yang diusung oleh para pendahulu tersebut? Tentulah hal itu sangat bertentangan dengan kebijaksanaan Ilahi, padahal Allah Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Coba renungkan: bagaimana mungkin sebuah kemuliaan dapat diraih tanpa kerja keras? Bagaimana mungkin kita berharap bisa memanen hasil tanpa pernah membajak lahan atau menanam benih? Mungkinkah kesuksesan datang tanpa sebersit usaha atau upaya? Dan mungkinkah sokongan ilahiah turun tanpa adanya alasan kuat yang meniscayakan turunnya sokongan tersebut?

Tak pelak lagi, pemikiran pasif semacam itulah yang sering kali menjadi ilusi. Ilusi yang menipu orang untuk larut dalam kemalasan dan pada akhirnya menghalangi mereka dari melahirkan karya atau tindakan nyata.

Bahkan, sikap pasif tersebut secara terang-terangan bertentangan dengan sunnatullah (hukum alam) yang telah ditetapkan. Jika ilusi itu dibenarkan, maka tidak ada lagi bedanya antara yang haq dan yang batil; antara sesuatu yang mendatangkan kerugian dan yang memberikan manfaat; antara ikhtiar untuk mengadakan perubahan dan kepasrahan yang meniadakan potensi. Mustahil Allah menetapkan tatanan yang demikian absurd.

Seandainya Allah menyokong seseorang tanpa menuntut tindakan nyata apapun darinya, tentulah Dia sudah menyokong baginda Nabi Muhammad saw. tanpa harus meminta beliau bersusah payah. Tanpa mengharuskan beliau berjuang mengangkat senjata dan bertaruh nyawa; serta tanpa mengharuskan beliau untuk patuh pada kaidah-kaidah hukum alam sunnatullah guna mencapai tujuan mulia dakwahnya.

Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

...x dibaca

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi!

Silakan masuk untuk menulis komentar

Sign In Google

Terkait .

Paling Populer .

Filter Kajian

Berdasarkan Lokasi:

Bidang Ilmu:

Tingkatan Kajian:

Semua Layanan MyESI

Pusat akses cepat portal mahasiswa

Quick Menu Saya
Layanan & Fitur Portal
ESI Logo
Portal ESI Masisir © 2026. All rights reserved.