Keistimewaan Ibadah Selawat dan Kecintaan Allah kepada Baginda Nabi

waktu baca 3 menit

Oleh: Hasyim Asy’ari

Ibadah Selawat

Kairo, ESI — “Kau tahu, perintah ibadah apa yang paling istimewa?” tanya seorang kawan membuka diskusi malam ini, sesaat setelah kami berdua usai menyeduh kopi.

“Salat,” jawabku dengan tegas. “Karena Nabi menerima perintah ibadah salat saat beliau menghadap langsung kepada Tuhannya. Salat adalah tiang dari segala amalan.”

“Bukan! Ada yang jauh lebih istimewa daripada itu,” tandasnya sembari mengangkat cangkir kopinya. Aku mengikuti gerakannya, menyesap kopi perlahan sembari menanti kelanjutan argumennya.

“Ada perintah ibadah yang memiliki kedudukan sangat spesial, bahkan jika dibandingkan dengan salat.”

“Apa itu?”

“Selawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw.”

“Lantas apa alasannya? Bukankah perintah berselawat di dalam Al-Qur’an hanya diungkapkan satu kali, sementara perintah salat terulang berkali-kali? Bukankah perulangan suatu perintah menunjukkan kadar urgensi dari hal tersebut?” ujarku sembari meletakkan cangkir kembali. Temanku hanya tersenyum simpul.

“Sekarang aku tanya, Tuhan memerintahkan salat, tetapi sebelum memerintahkannya apakah Dia sendiri melaksanakan perintah-Nya itu?” temanku menyunggingkan senyum penuh arti.

“Apalagi perintah zakat, puasa, haji, dan seabrek ibadah lainnya. Tentu kau tak bisa membayangkan Tuhan melakukan salat, mengantarkan beras ke amil zakat, menahan lapar dari subuh hingga petang, atau melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah. Itu mustahil.”

Aku tersenyum kecil mendengar kelakarnya yang logis itu.

“Berbeda dengan selawat,” lanjutnya. “Tuhan bersama para malaikat-Nya telah berselawat terlebih dahulu sebelum memerintahkan hal itu kepada manusia. Tak perlu kusebutkan bunyi ayatnya, tentu kau sudah sangat hafal, bukan?”

Tentu aku mengiyakannya. Keistimewaan selawat memang terletak pada fakta bahwa Allah Swt. ‘turut serta’ dalam amalan tersebut.

“Bahkan, selawat Tuhan beserta para malaikat-Nya itu tidak terbatas pada saat sebelum perintah itu turun saja. Namun, selawat mereka kepada Baginda Nabi Muhammad saw. terus berkelanjutan tanpa henti.”

“Kenapa bisa demikian?”

“Dilihat dari kalam yang dituliskan-Nya. Tuhan menggunakan bentuk fi’il mudhari’ untuk mengungkapkan selawat tersebut. Sebagaimana kaidah bahasa Arab, fi’il mudhari’ memiliki faedah li istimrar, yang menunjukkan bahwa hal tersebut dikerjakan secara terus-menerus.”

Jika demikian, jika Allah Swt. Yang Maha Agung lagi Mahakuasa bersama para malaikat yang suci saja begitu mencintai dan mengagumi Nabi Muhammad saw. dengan senantiasa berselawat, maka betapa angkuhnya kita sebagai makhluk kecil jika malas atau kikir dalam berselawat. Padahal, kita sangat mengharapkan syafaat beliau kelak.

“Sebab itu temanku, mari kita tingkatkan mahabbah kita kepada Kanjeng Nabi dengan memperbanyak selawat. Barang siapa yang paling banyak menyebut namanya, maka dialah yang paling besar cintanya. Semoga dengan wasilah selawat ini, sendablek-ndableknya kita, tetap diakui sebagai umat beliau yang berhak mendapatkan syafaat di yaumul qiyamah nanti.”

Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

...x dibaca

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi!

Silakan masuk untuk menulis komentar

Sign In Google

Terkait .

Paling Populer .

Filter Kajian

Berdasarkan Lokasi:

Bidang Ilmu:

Tingkatan Kajian:

Semua Layanan MyESI

Pusat akses cepat portal mahasiswa

Quick Menu Saya
Layanan & Fitur Portal
ESI Logo
Portal ESI Masisir © 2026. All rights reserved.